Menghancurkan Karst, Menciptakan Kegelapan Masa Depan

Oleh: Imron Fauzi

 

Kenampakan morfologi permukaan kawasan karst Malang
Kenampakan morfologi permukaan kawasan karst Malang

Di Indonesia luasan kawasan Karst mencapai 154.000 km2, yang tersebar mulai dari ujung barat sampai dengan ujung Timur Indonesia. Dan hanya 22.000 km2 kawasan karst di Indonesia yang masuk dalam area terlindungi. Karst di Indonesia selama ini hanya dipandang sebagai onggokan besar batu gamping yang kemudian diekspoitasi dalam skala kecil sampai skala besar seperti penambangan untuk kebutuhan industri semen.

Disadari atau tidak, kawasan karst telah memberikan manfaat dan keuntungan kepada masyarakat yang nilai dan perannya jauh lebih penting dari sekedar onggokan raksasa batu gamping. Karst batugamping merupakan fosil terumbu karang yang hidup pada masa lampau, jutaan tahun yang lalu. Beberapa manusia purba di Indonesia menjadikan Gua sebagai tempat tinggal dan berlindung, temuan ini ada di gua-gua di pesisir utara Papua Barat. Lukisan di dinding-dinding gua Leang-leang, Maros, membuktikan bahwa keberadaan peradaban manusia di Indonesia sudah ada sejak lama. Temuan rangka manusia di Gua Pawon, Jawa Barat dan di kawasan Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan membuktikan bahwa gua mempunyai peran penting bagi manusia sejak lama.

Sungai bawah tanah di Gua Bribin yang dibendung (http://isandri.blogspot.com/2011/01/berbagai-teknologi-baru-untuk-bribin-ii.html)
Sungai bawah tanah di Gua Bribin yang dibendung dimanfaatkan airnya untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Gunung Kidul (http://isandri.blogspot.com/2011/01/berbagai-teknologi-baru-untuk-bribin-ii.html)

Sekitar 20 persen penduduk di dunia memperoleh air bersih dari kawasan karst (Slovenia, Inggris, Mexico, Yunani, Indonesia, dan masih banyak). Di Indonesia, masyarakat mengandalkan air dari kawasan karst untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti di Bribin, Kabupaten Gunung Kidul. Tidak hanya untuk kebutuhan minum, sungai-sungai di Kalimantan yang dijadikan sebagai jalur transportasi utama, mempunyai hulu di kawasan karst. Air juga dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian di beberapa tempat di Indonesia.

Indonesia adalah salah satu penghasil sarang burung walet terbesar di Indonesia. Sebagian besar gua-gua di Kalimantan Timur merupakan habitat burung walet. Beberapa kabupaten di Kalimantan Timur mempunyai pendapatan daerah dari penjualan sarang walet.

Ornamen gua terbentuk melalui proses yang lama, jutaan tahun. Menghasilkan panorama indah tiada taranya, yang tidak ditemui pada permukaan. Panorama ini bisa dimanfaatkan untuk wisata khusus dan pendidikan bagi masyarakat. Luweng Jomblang, Kabupaten Gunung Kidul telah dijadikan sebagai tempat wisata petualangan dan pendidikan. Begitu juga dengan Gua Buniayu di Sukabumi.

Kelelawar merupakan salah satu biota yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal. Kelelawar pemakan serangga mempunyai peran mengendalikan serangga sehingga tidak menjadi hama bagi pertanian. Sedangkan pemakan buah menjadi penyerbuk berbagai jenis buah-buahan yang bernilai ekonomis. Kelelawar merupakan salah satu “spesies kunci” bagi keseimbangan ekosistem di sekitarnya.

Dengan berbagai manfaat dan potensi tersebut di atas, kawasan karst merupakan laboratorium alam. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan bisa diungkap di kawasan karst. Sumber informasi yang terekam dan tersimpan selama proses pembentukan karst menjadi bahan penelitian berbagai disiplin ilmu untuk kebaikan.

Semua potensi kawasan karst tersebut, tidak akan berarti sama sekali bagi mereka yang memandang karst sebagai secuil batugamping, yang bisa ditambang dan dapat menghasilkan uang, namun hanya dalam jangka waktu pendek sampai karst habis ditambang.

Habisnya batugamping, maka hilang pula fungsi dan nilai kawasan karst, beserta seluruh potensi yang dimilikinya. Tidak ada yang tersisa untuk anak cucu. Khususnya anak cucu yang saat ini memperoleh manfaat dari kawasan karst. Bukan mereka pada pemodal, setelah memperoleh keuntungan, para pemodal ini tidak hidup di kawasan karst yang batu gambingnya habis dan ekosistem hancur.

Rujukan:

  • Fauna Gua Jawa Kontribusi Bagi Pelestarian Karst di Jawa, http://biotagua.org/2007/12/02/fauna-gua-jawa-kontribusi-bagi-pelestarian-karst-di-jawa/ (diakses 9 Maret 2012)
  • Lestarikan Karst Indonesia, http://petagua.wordpress.com/ (diakses 9 Maret 2012)

 

Penulis meyakini bahwa pengetahuan milik umat manusia. Artikel ini – baik sebagian maupun keseluruhan – dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarluaskan secara bebas, melalui semua bentuk media, untuk tujuan bukan komersial (non-profit) dengan syarat tidak menghapus atau mengubah atribut penulis dan pernyataan copyright yang disertakan didalamnya. (ɔ) copyleft 2012

Arsip

Pertanian dan Peternakan Hidupi Warga Satar Punda, Mengapa Harus Ada Tambang?
July 22, 2021
Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020

Arsip

Related Posts

2 Responses
  1. Tulisan yg sangat menarik.. Kawasan karst tersebar di seluruh penjuru nusantara dan masih sangat sedikit seksli yg sudah diteliti serta dikembangkan secara bijak..
    Selamat buat Mas Imron Fauzi yg sudah riil berbuat untuk konservasi karst melalui penelitian-penelitiannya bersama rekan-rekan Impala Unibraw.. Dan melalui penyuaraan via tulisan.. Semangat..!!

Leave a Reply