Potensi Kawasan Kars Di Kecamatan Panggul Trenggalek

Kecamatan Panggul merupakan salah satu kecamatan yang terletak di kabupaten Trenggalek bagian selatan, berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan. Kecamatan Panggul memiliki luas sekitar 132 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 80.000 jiwa (terbesar di Kabupaten Trenggalek). Jarak dari Kecamatan Panggul ke Kabupaten sekitar 60 km dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok. Sebagian besar dari penduduk kecamatan Panggul adalah petani. Baik petani yang memiliki lahan sendiri maupun petani yang berdasarkan sewa lahan/upahan.

Secara administratif, Kecamatan Panggul wilayahnya berbatasan dengan :
Sebelah timur : Kecamatan Dongko, dan Kecamatan Munjungan
Sebelah utara : Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Kecamatan Pule Trenggalek
Sebelah Barat : Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan
Sebelah Selatan: Samudera Indonesia
Kecamatan ini terdiri dari 17 Desa yaitu, Desa Banjar, Barang, Besuki, Bodag, Depok, Gayam, Karangtengah, Kertosono, Ngrambingan, Manggis, Nglebeng, Ngrencak, Panggul, Sawahan, Tangkil, Terbis, dan Wonocoyo.

Sebagian besar daerah di Kecamatan Panggul didominasi oleh pegunungan, persawahan, juga pantai. Oleh karena itu, diperkirakan kawasan Panggul merupakan salah satu kawasan karst dari sekian banyak kawasan kars yang tersebar di Indonesia. Namun kawasan karst yang tersebar ini, sebagian besar belum terdata potensinya. Kawasan Karst sendiri dikenal sebagai kawasan yang didominasi oleh bebatuan, yang tandus, dan kering. Tetapi diketahui pula bahwa kawasan karst juga menyimpan suatu mata air, sebagai sumber utama kehidupan bagi manusia. Selain cadangan air, di kawasan karst juga terdapat gua yang menjadi tempat hidup beberapa jenis hewan, salah satunya kelelawar, yang dapat berguna bagi manusia. Misalnya untuk kelelawar jenis buah, ia akan membantu penyebaran tumbuhan, lewat biji buah yang ia makan dan mereka sebarkan di berbagai tempat. Selaras dengan hal itu, kelelawar pemakan serangga pun mempunyai pengaruh yang signifikan, karena pemakan serangga maka ia membantu para petani untuk mengurangi jumlah hama yang merusak tanaman. Selain itu kotoran kelelawar juga dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Tetapi bagaimana kalau kawasan karst tersebut semakin berkurang/rusak karena ulah manusianya sendiri? Berbekal kepedulian dan kesadaran untuk melindungi kawasan karst itulah pada tanggal 09-10 April 2016 lalu, komunitas wisata desa Kecamatan Panggul berpartisipasi dengan WALHI dan ISS mengadakan acara Kelas Tematik Speleologi Partisipatif dengan tema “Konsep Pembangunan dan Konservasi melalui Wisata Desa, Pengenalan Speleologi dan Karstologi, Inventarisasi Kawasan Karst Mandiri Berbasis Android dan GIS.”

Pendataan kawasan karst di Kecamatan Panggul
Pendataan kawasan kars dilakukan dengan turun langsung ke lapangan menyisir daerah hutan dan gua. Didampingi Bang Rere dari WALHI dan Imron Fauzi dari ISS (Indonesian Speleological Society) kami menyisir kawasan sekitar Pantai Pelang. Jalan yang kami lewati cukup sulit, merupakan jalan setapak yang didominasi pohon-pohon besar, bahkan kami temui juga bebatuan cadas dan jalan berlumpur. Dari beberapa titik yang kami temukan, ada beberapa gua dan mata air yang berhasil kami identifikasi sebagai kawasan yang berpotensi sebagai kawasan karst. Setidaknya ada enam gua yang berhasil kami identifikasi. Untuk Mata air itu kebanyakan berasal dari bukit karst yang ada diatasnya, juga ada yang berasal dari mata air yang ada didalam gua.

Gua pertama yang kami identifikasi ini terletak di atas Pantai Pelang, teridentifikasi sebagai gua horizontal dengan vegetasi pohon bambu, dan pohon petai cina tak jauh dari bibir gua. Air dengan debit 184,22 liter/detik dari gua Ubalan 1 ini dimanfaatkan untuk kebutuhan air rumah tangga dan pengairan pertanian.

Gua yang kedua adalah Gua Ubalan 2 yang begitu indah dengan vegetasi pohon merambat disekitarnya. Didalam gua tersebut ada sumber mata air yang membentuk seperti danau, dan hidup pula kelelawar. Dari gua ini mengalir sungai menuju air terjun Pelang hingga bermuara di pantai Pelang. Air dengan debit 792,615 liter/detik dari gua Ubalan 2 ini dimanfaatkan untuk pengairan pertanian.

Memasuki kawasan wisata Pantai Pelang. Ada empat gua lagi yang teridentifikasi, yaitu Gua Pertapaan, Gua Pelang 1, Gua Pelang 2, dan Gua Kulon Jembatan. Dari keempat gua tersebut, diketahui sebagai gua horizontal yang kering.

Keenam gua tersebut teridentifikasi sebagai gua horizontal, yang tingginya rata-rata sekitar 100 meter. Namun keeenam gua tersebut belum dapat ditelusuri lebih jauh, karena gua-gua tersebut mengerucut dan tidak ada jalan lagi untuk menemukan ujungnya.

Dari penemuan gua tersebut, dapat dikatakan bahwa Kecamatan Panggul merupakan kawasan yang sangat berpotensi menjadi kawasan karst, yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai wisata desa kawasan karst. Tetapi, karena keterbatasan waktu tidak mungkin seluruh kawasan Panggul dapat kami telusuri. Namun, dari data hasil penelitian awal yang ditemukan ini, kami mempunyai dasar untuk melakukan tindak lanjut mengadakan penelitian-penelitian selanjutnya. (Agil S.M Yani)
[AFG_gallery id=’4′]

Arsip

Pertanian dan Peternakan Hidupi Warga Satar Punda, Mengapa Harus Ada Tambang?
July 22, 2021
Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020

Arsip

Glossary

Related Posts

1 Response

Leave a Reply