Membangkitkan Kesadaran Publik dalam Gerakan Kendeng Melalui Speleologi

Sektor industri mineral menjadi penyebab konflik di berbagai kawasan karst di Indonesia karena banyaknya perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam untuk membuat semen. Namun ilmu penjelajahan gua –speleologi– dapat membantu masyarakat lokal memahami potensi lanskap mereka yang unik, berkontribusi untuk memajukan solidaritas lokal, dan memberdayakan mereka untuk membuat keputusan yang lebih jelas tentang pertambangan di wilayah mereka.

Dok. A.B. Rodhial Falah

Meskipun memperlihatkan bentang alam permukaan yang tampak cukup kering, jutaan penduduk Indonesia tinggal di kawasan karst. Umumnya masyarakat ini mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber pendapatannya. Masyarakat bergantung pada mataair karst untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk pertanian.

Mineral karbonat yang merupakan penyusun utama karst sangat diminati oleh investor. Mineral karbonat masih menjadi bahan baku utama industri semen Portland yang rakus bahan baku: untuk mendapatkan 1 ton semen dibutuhkan rata-rata 1,4 ton batugamping. Batugamping harus ditambang, dihancurkan, dan dibakar dalam tungku bertemperatur sangat tinggi untuk menghasilkan semen Portland.

Selain berkurangnya pasokan air bersih bagi warga, dampak langsung penambangan batugamping adalah hilangnya lahan pertanian milik warga. Pembebasan lahan untuk tambang industri semen seringkali tidak diimbangi dengan informasi yang lengkap bagi petani pemilik lahan bahkan seringkali dilakukan tanpa mematuhi aturan.

Di sinilah keahlian dan minat unik para ahli speleologi dapat dibagikan kepada masyarakat lokal, dengan cara yang menghormati, memelihara, dan memperkuat pemanfaatan kawasan karst. Berseberangan dengan mereka yang hanya ingin menguasai sumberdaya alam dan membiarkan penduduk mencari alternatif lain untuk memenuhi mata pencaharian mereka sehari-hari.

Karst sebagai ruang hidup

Kawasan karst di Pulau Jawa sangat vital bagi kehidupan sehari-hari, karena banyak penduduk yang secara langsung bergantung pada fungsi kawasan karst, terutama dari segi tata guna lahan dan ketersediaan air bersih. Hubungan karst dengan masyarakat sekitar juga telah tumbuh dan terbentuk selama ratusan generasi. Miasalnya, di Pulau Jawa (terutama di desa-desa) hubungan ini telah diungkapkan dengan melakukan berbagai macam upacara ruwatan (‘pemeliharaan’) secara berkala di mataair karst pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk penghormatan.

Kawasan karst merupakan bentang alam yang spesifik dan unik. Lingkungan gua ini umumnya berkembang melalui proses pelarutan batugamping. Bentang alam karst terdiri dari karst permukaan (exo-karst) dan karst bawah permukaan (endo-karst). Di daerah tropis, permukaan bentang alam karst saat ini umumnya menunjukkan kesan kering. Pada karst tropis, sebagian besar permukaan karst didominasi oleh perbukitan dan lembah. Tanah hasil pelapukan batugamping terangkut dan terakumulasi di lembah-lembah, menyebabkan bebatuan di perbukitan kapur menjadi ‘telanjang’ dan tersingkap.

Batugamping merupakan jenis batuan yang dapat menyerap dan menyimpan air hujan, sehingga memiliki fungsi sebagai reservoir alami, reservoir air tawar, dan (dalam kondisi tertentu) reservoir minyak bumi. UNESCO telah mengatakan bahwa “Air tanah dari akuifer karst sangatlah signifikan, dan merupakan sumber air minum paling aman” (dalam Forti, 2015). Sebagai batuan sedimen, batugamping mengandung setidaknya 40% mineral karbonat (CaCO3) dalam komposisinya. Mineral karbonat terbentuk oleh proses pengendapan, pengerjaan ulang dan pembatuan berbagai hewan laut bercangkang dan terumbu karang yang mati dan terurai jutaan tahun yang lalu.

Konflik kepentingan di kawasan karst

Dok. A.B. Rodhial Falah

Penambangan batugamping telah memicu banyak konflik di Indonesia, terutama antara industri semen (didukung oleh pemerintah) dan petani lokal. Penelitian yang dipublikasikan selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa penambangan batugamping terbukti (lebih banyak) merugikan lingkungan dan manusia yang tinggal di sekitarnya. Di Bogor, Jawa Barat, batugamping yang telah ditambang dan tidak direklamasi kehilangan 95,8% kemampuannya dalam menyerap air hujan. Sedangkan batugamping hasil tambang dan batugamping reklamasi menyerap air hujan dengan kapasitas hanya 58% (berdasarkan riset yang dilakukan Djakamihardja & Muhtadi di lokasi pertambangan batugamping Indocement, 2013). Akibatnya, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tambang selama puluhan tahun mengalami krisis air bersih, terutama di musim kemarau.

Di kawasan Kendeng Jawa Tengah, petani di Pegunungan Kendeng telah melakukan gerakan perlawanan terhadap eksploitasi kawasan karst untuk pertambangan batugamping sejak tahun 2006. Mayoritas petani yang memiliki kesadaran lingkungan akan menolak menjual lahan pertanian untuk pertambangan, namun para petani yang tidak memiliki informasi yang cukup (tentang lingkungan karst) cenderung akan merelakan lahannya untuk dijual, dan kebanyakan dari mereka akan menyesali keputusan tersebut.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menyerukan untuk melindungi kawasan karst di seluruh dunia karena memiliki nilai penting: sebagai habitat flora dan fauna, sebagai kawasan religi dan spiritual, sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, sebagai tempat laboratorium alam untuk ilmu pengetahuan dan penelitian, sebagai bagian dari prasejarah dan budaya, sebagai kawasan dengan bentang alam yang unik dan sumber daya mineral yang langka, sebagai kawasan perkebunan dan industri tertentu, dan sebagai kunci hidrologi regional.

Meningkatkan kesadaran melalui speleologi

Penduduk desa yang tinggal di wilayah karst memiliki pemahaman lokal tentang potensi karst,. Mereka membangun pengetahuan lokal dari generasi ke generasi melalui interaksi panjang dengan lingkungan sekitarnya. Namun, pemahaman penduduk desa tentang karst umumnya hanya terkait dengan mataair yang penting bagi kehidupan mereka saja. Mereka umumnya tidak memahami fungsi lain dari karst. Mereka juga tidak memahami bahwa kalangan pebisnis juga meminati karst untuk potensi industri.

Speleologi adalah ilmu yang menggunakan gua dan lingkungannya sebagai objek kegiatan mereka. Tidak hanya sebagai sarana untuk belajar, tetapi juga menggunakan gua sebagai lokasi untuk berbagai aktivitas, seperti petualangan, olahraga, dan pariwisata. Tidak ada batasan dalam speleologi dan ini menjadikan komunitas speleologis sebagai entitas yang inklusif, dengan berbagai anggota dari latar belakang yang sangat beragam. Dengan basis yang kuat dalam kelompok yang terafiliasi dengan perguruan tinggi, banyak kegiatan speleologi muncul dari aktivis-peneliti kampus, dan para petualang. Kedua entitas ini akan saling berinteraksi ketikanaktivitas speleologi dilakukan dengan melibatkan masyarakat di suatu kawasan karst.

Penduduk lokal, yang hampir seluruhnya berdomisili di desa-desa, umumnya terlibat dalam kegiatan speleologi hanya sebagai tuan rumah, karena rumah mereka digunakan sebagai basecamp lapangan, atau ketika mereka bertugas sebagai porter dan pemandu. Tetapi melalui interaksi yang lebih dalam dan minat bersama dalam “Ruang Karst’, survei dan kegiatan speleologi (terbukti secara efektif) telah membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai penting lanskap karst yang unik, termasuk pentingnya aktivitas pengumpulan data.

Sebagai contoh, Acintyacunyata Speleological Club (ASC), sebuah kelompok speleologi yang berbasis di Provinsi (DI) Yogyakarta, telah melakukan survei di 15 dusun tentang pengetahuan warga terkait potensi air karst di Kabupaten Grobogan pada 2005-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yang berprofesi sebagai petani tahu bahwa air yang mereka gunakan untuk kehidupan sehari-hari dan untuk aktivitas pertanian mereka berasal dari daerah karst. Tim ASC juga telah membuka ruang interaksi dengan warga, mempresentasikan dan mendiskusikan hasil identifikasi potensi karst yang dilakukan. Audiensi itu dihadiri oleh kepala dusun, kepala desa, dan penduduk desa secara umum. Hasilnya pendekatan speleologi yang dilakukan ASC telah berdampak pada perspektif warga desa terkait rencana eksploitasi batugamping di daerah penelitian.

Didukung oleh investor Tiongkok, produsen semen Vanda Prima Listri telah berencana untuk mendirikan pabrik semen di Grobogan pada tahun 2004. Temuan-temuan speleologi yang telah dihasilkan ASC membuat masyarakat menyadari bahwa jaringan gua di bawah perbukitan karst sangat penting untuk pertanian dan mata pencaharian warga. (Masyarakat secara kolektif menolak rencana pendirian pabrik semen di wilayahnya).

Speleologi praktis untuk komunitas pertanian

Komunitas Kendeng di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, sebagian besar adalah petani dan telah memiliki pengetahuan yang baik bahwa air yang mereka gunakan untuk pertanian berasal dari pegunungan batugamping di daerah mereka. Pada tahun 2007-2008, ASC telah melibatkan warga lokal sebagai bagian dari tim untuk mengumpulkan data tentang potensi karst di wilayah tersebut, baik dalam pencatatan posisi mulut gua dan mataair menggunakan GPS, memetakan lorong gua dan mengukur debit aliran air. (Keterlibatan warga dalam pemetaan gua terbatas pada gua horizontal, hal ini telah diputuskan untuk meminimalkan risiko eksplorasi gua.)

Sebelum melakukan kegiatan lapangan, tim ASC memberikan pelatihan tentang pengetahuan praktis yang diperlukan untuk mengumpulkan data potensi karst di Sukolilo, seperti: bagaimana menggunakan perangkat GPS, bagaimana memetakan sebuah gua, bagaimana mengukur aliran air dengan metode sederhana. Warga juga dilatih pengetahuan dasar penelusuran gua termasuk penggunaan alat-alat penelusuran tingkat dasar. Warga juga diperkenalkan dengan pengetahuan dasar tentang karst melalui pertunjukan slide, pertunjukan film, dan diskusi setiap malam selama aktivitas pengumpulan data Kawasan Karst Sukolilo.

Tim ASC memproses pengumpulan data langsung di lapangan. Hasilnya ditayangkan bersamaan dengan dokumentasi video harian melalui proyektor besar. Kegiatan ini dilakukan dari satu desa ke desa lain, baik di rumah masyarakat atau di lapangan-lapangan desa. Melalui cara ini informasi dapat disebarluaskan secara luas di seluruh komunitas Kendeng, di mana mayoritas dari mereka pada waktu itu telah setuju dengan rencana pembangunan pabrik semen. Dengan melibatkan komunitas warga lokal dalam pengumpulan data potensi Karst Sukolilo, warga secara otomoatis akan menjadi agen penyebaran pengetahuan tentang karst berdasarkan pengalaman empirik yang telah mereka peroleh secara langsung di lapangan.

Mayoritas warga desa yang tidak memiliki pendidikan formal terbukti memiliki kepercayaan diri dalam menyampaikan sebuah informasi, karena informasi yang mereka bagikan adalah data primer yang mereka dapatkan secara langsung di lapangan. Penyebaran informasi ini tidak hanya dilakukan melalui diskusi yang diadakan oleh tim ASC di rumah-rumah rakyat atau lapangan-lapangan desa di kecamatan Sukolilo, tetapi juga dilakukan oleh perempuan-perempuan lokal, mereka menyasar di tempat-tempat berkumpulnya warga, seperti di mataair-mataair, pasar-pasar, dan pertemuan-pertemuan internal warga.

Reproduksi pengetahuan karst untuk generasi berikutnya

Gerakan Kendeng telah berjalan selama 16 tahun dan terus berjuang melawan eksploitasi alam oleh industri semen hingga saat ini. Gerakan ini telah tumbuh dari gerakan warga lokal menjadi gerakan nasional, bahkan menjadi bagian gerakan internasional dengan terlibatnya para aktivis perubahan iklim yang berbasis di Jerman. Sayangnya, gerakan ini telah juga menghabiskan sumberdaya mereka-mereka yang aktif sejak awal di dalamnya, dan beberapa yang terlibat di awal gerakan sudah mulai menarik diri karena alasan usia dan berbagai alasan lainnya.

Gerakan Kendeng sekarang telah memasuki periode di mana generasi muda berada di garis depan. Generasi muda memiliki energi besar untuk melanjutkan gerakan melalui berbagai platform. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah pengetahuan speleologi masih memiliki peran yang signifikan, apakah masih terus direproduksi dan diwariskan ke generasi muda saat ini?

Sebuah survei secara online telah penulis distribusikan ke secara terbatas ke komunitas Kendeng pada awal 2022. Survei ini penulis lakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman komunitas saat ini terkait pengetahuan dasar speleologi (meliputi karst dan gua). Penulis telah menerima tanggapan dari 27 petani Kendeng. Hasil survei menyatakan bahwa lebih dari 90% responden memahami apa itu Karst dan manfaatnya bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya, terutama fungsi karst sebagai akuifer air tawar. Lebih dari 80% responden mengenali fauna dengan gua sebagai habitatnya, dan 95% responden tahu bahwa fauna gua (dalam hal ini, kelelawar) sangat bermanfaat untuk pertanian di sekitar area karst.

Hampir setengah dari responden mengklaim telah menerima informasi tentang karst dari keluarga mereka, lebih dari sepertiga menerima informasi tentang karst dari media, dan satu dari enam menerima informasi tentang karst dari tetangga atau teman mereka.

Yang menarik dari survei terbatas ini adalah peran keluarga dalam mereproduksi pengetahuan karst dan gua dalam Komunitas Kendeng. Semua responden berusia 12-17 tahun menerima informasi karst dari keluarga mereka, sementara responden yang berusia di atas 17 tahun rata-rata mendapat informasi karst dari interaksi mereka dengan orang lain, surat kabar, media online, dan televisi. Mayoritas responden (lebih dari 75%) mengharapkan pengetahuan karst tambahan dan metode yang paling diinginkan untuk belajar adalah melalui kunjungan lapangan langsung dan diskusi.

Profil Penulis :

A.B. Rodhial Falah adalah seorang peneliti di bidang Speleologi (Studi dan Eksplorasi Gua). Penulias artikel dan publikasi speleologi dan karst ekosistem, dan produksi video dokumentasi tentang Lingkungan, Energi, Polusi dan Perubahan Iklim di Indonesia. Global Ideas series untuk Deutsche Walle. Lulusan Teknik Geologi Institute Teknologi Nasional Yogyakarta

Arsip

SpeleoTalks #11
Ringkasan SpeleoTalks Seri 11: Peta Jalan Speleologi di Indonesia
February 21, 2022
Agenda SpeleoTalks seri 11: Peta Jalan Speleologi di Indonesia
February 17, 2022
Pertanian dan Peternakan Hidupi Warga Satar Punda, Mengapa Harus Ada Tambang?
July 22, 2021
Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020

Arsip

Related Posts

Leave a Reply