Sementara banyak penelusur gua puas dengan menjelajahi gua-gua yang dikenal, yang lainnya berusaha untuk menemukan dengan survei gua-gua baru. Survei dan penemuan gua dilakukan melalui pencarian secara sistematis di permukaan yang memungkinkan ditemukan gua-gua baru. Pencarian gua baru perlu dilakukan, karena wilayah karst di Indonesia masih banyak yang belum didata.

Pencarian gua baru biasanya dimulai dengan keakraban pada daerah tertentu dengan perasaan bahwa ada lebih banyak gua dari saat ini yang sudah diketahui. Proses pencarian bisa lama dan sulit, sehingga ketekunan diperlukan. Berikut ini adalah ringkasan beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam pencarian gua (area) baru:

Penelitian. Langkah pertama dalam proses ini adalah untuk melakukan penelitian latar belakang pada area yang akan dicari gua baru. Biasanya memeriksa literatur-literatur yang diterbitkan, termasuk laporan dari kelompok penelusur gua lain. Mempelajari Peta Geologi dan Topografi adalah langkah berikutnya untuk mengidentifikasi daerah-daerah mungkin didasarkan pada ciri-ciri fisik seperti mencari daerah yang penyusun batuannya dari batu gamping. Serta mencari kenampakan cekungan/dolina, sungai hilang (swallowholes, sinkholes), mata air pada peta topografi. Di Indonesia Peta Geologi bisa diperoleh di Pusat Survei Geologi. Sementara Peta Topografi (Peta Rupabumi) bisa diperoleh di Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Peta Geologi Desa Kedungsalam, diolah dari Peta Geologi lembar Blitar (Pusat Survei Geologi, 1992)

Selain itu foto udara, citra satelit atau peta kawasan lahan (tematik tertentu) jika memungkinkan bisa diperoleh untuk menunjang penelitian. Proses ini akan membantu mempersempit daerah pencarian untuk memudahkan membuat skenario pergerakan di lapangan. Ini juga merupakan waktu yang baik untuk mengidentifikasi pemilik atau pengelola tanah untuk memperoleh izin pencarian gua pada area mereka.

Penyelidikan Lapangan. Pola pencarian yang sistematis diperlukan agar efektif dengan menentukan area pencarian terlebih dahulu pada peta kerja (Peta Topografi/Rupabumi) akan memudahkan pergerakan pencarian di lapangan. Menelusuri setiap kenampakan cekungan/dolina, lembah, sungai hilang (swallowhole, sinkhole), mata air yang diindikasikan adanya gua. Informasi bisa didasarkan pada peta yang sudah diberi tanda atau dari informasi masyarakat (pemilik atau pengelola lahan). Seringkali kita tidak menemukan gua atau pintu masuk yang terbuka dengan mudah, karena lapisan penutup atau vegetasi yang rapat. Jadi diperlukan usaha keras pada proses penyelidikan dengan sedikit menggali atau membuka vegetasi di sekitar mulut masuk ke gua.

Rekam dan Laporan. Setiap area yang sudah diselidiki perlu diberi tanda pada peta kerja, agar area tersebut tidak disurvei ulang. Tujuannya agar pergerakan lebih efektif dan efisien. Setelah menemukan mulut gua (atau fenomena alam yang menjadi target pencarian seperti mata air, ponor, telaga), kemudian rekam lokasi menggunakan Global Positioning System (GPS) receiver untuk mendapatkan titik lokasi yang akurat. Dan segera isi lembar kerja penyelidikan seperti nama gua, koordinat geografis, lokasi administrasi, deskripsi topografi sekitar mulut gua, deskripsi mulut gua, deskripsi hidrologi di mulut gua, deskripsi vegetasi, akses menuju mulut gua, informasi pemilik/pengelola lahan dan informasi lain yang dibutuhkan. Sampaikan laporan temuan Anda ke pemerintah setempat, pengelola atau pemilik tanah, organisasi anda, peneliti dan kelompok penelusur gua lain untuk memudahkan mereka melakukan penyelidikan, penelitian lebih lanjut. Seperti survei dan pemetaan gua, penelitian biota, penelitian hidrologi, paleontologi, dan lain-lain. Peralatan yang digunakan pada proses penyelidikian ini adalah Peta, GPS, Kompas, Pita Ukur, Kamera, Lembar Kerja Pendataan, Alat Tulis.

(ɔ) copyleft 2013

Arsip

Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020
Agenda SpeleoTalks seri 9: Cave Diving – into the unknown world
July 23, 2020

Arsip

Glossary

Related Posts

4 Responses
  1. Sonny

    ada beberapa lokasi karst di papua barat yang perlu diteliti dan di data. mengingat saat ini banyak eksplorasi dari beberapa perusahaan tambang khususnya yang berkaitan dengan semen.. alangkah baiknya dilakukan penelitian potensi dan mapping areal karts tersebut… khususnya di kabupaten Kaimana provinsi papua barat… apabila berkenan bisa email kami. makasi

    1. Bung Sonny, jika memang mendesak, anda bersama teman-teman di Kaimana bisa melakukan survei terlebih dahulu. Kami akan bantu mengirim formulir lembar kerja survei sebagai panduan survei dan informasi yang perlu diisi. Kemudian kami bantu mengolah data-data tersebut melalui media ini. Salam Lestari

  2. fachri

    Salam, sulawesi barat pun terdapat banyak gua baik vertikal maupun horizontal , untuk data gua sulawesi barat apa sudah ada, terima kasih salam lestari

    1. Halo Fachri, data sebaran gua di Sulawesi Barat masih belum ada. Masih banyak wilayah “kosong” belum ada datanya, salah satunya di Sulawesi Barat. Semoga kedepan semakin banyak yang melakukan inventarisasi di wilayah Sulawesi Barat. Salam Speleo!

Leave a Reply to fachri Cancel Reply