Resume Acara Speleo Talks: Hasil Identifikasi dan Monitoring Biota Gua

Ringkasan oleh Mirza Ahmad H.

Pada hari Minggu (31/05/2020) kemarin, Masyarakat Speleologi Indonesia mengadakan Speleo Talks: Hasil Identifikasi dan Monitoring Biota Gua, sebuah kegiatan yang bertujuan menciptakan forum berbagi pengetahuan dan pengalaman dari dan bagi para penelusur gua serta pemerhati kawasan karst. Sebagaimana dapat terpahami dari tajuk acara, pada Speleo Talk kali ini dibicarakan hasil-hasil kegiatan identifikasi dan pemantauan (monitoring) biota gua yang pernah dilakukan di Indonesia kurun waktu 3 tahun terakhir.

Merespon situasi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai sekarang maka Speleo Talks kali ini dilakukan secara daring (online) berformat webinar dengan menggunakan Zoom dan Youtube streaming. Berlangsung mulai pukul 10.00 s.d. 12.10 Wib, kegiatan ini diikuti setidaknya oleh 170 orang peserta.

Moderator webinar, Isma Dwi Kurniawan (Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Anggota ISS), memulai acara dengan memberi kesempatan pertama kepada Cahyo Rahmadi (Peneliti LIPI/Presiden ISS) yang menyampaikan beragam informasi di seputar kegiatan Stenasellus Project—suatu program bersama yang diinisiasi oleh ISS dan menjadikan Gua Cikarai di Klapanunggal sebagai lokasi penyelidikan. Secara umum Stenasellus Project tersebut bertujuan memasyarakatkan arti pentingnya keanekaragaman hayati gua sehingga karena itu perlu ada perhatian khusus sekaligus menyeluruh terhadap kelestariannya. Upaya tersebut dipraktikkan dengan meneliti kondisi populasi dan sebaran Stenasellus di kawasan karst yang ada di Jawa Barat pada tahapan pertama. Di sana para peneliti sekaligus mengidentifikasi potensi ancaman-ancaman yang akan berdampak langsung terhadap keberadaan Stenasellus dengan mempelajari kondisi lingkungan gua dari aspek fisik biotik sebagai habitat berbagai spesies gua.

Pemaparan Stenasellus Project oleh Dr. Cahyo Rahmadi

Sebagai inisiasi awal kegiatan pemantauan populasi Stenasellus dan lingkungan guanya diawali di Gua Cikarae di Desa Leuwi Karet, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Dalam kurun waktu setahun, setiap satu bulan sekali tim Stenasellus Project mendatangi Gua Cikarai untuk memantau keberadaan Stenasellus.

Adapun Stenasellus adalah “biota akuatik dari kelompok Isopoda. 
Nenek moyangnya merupakan biota yang hidup di laut dan mampu beradptasi di air tawar. 
Saat ini diketahui hidup di air tawar dan air laut.” 
Cahyo Rahmadi  juga menyampaikan bahwa keberadaan Stenasellus juga ditemukan di Buniayu (Sukabumi) dan Ciampea (Bogor) serta yang terbaru di Tasikmalaya (sebagaimana yang dilaporkan oleh penelusur gua jaringan TCC). 

Stenasellus semula hidup di laut kemudian beradaptasi di air tawar seturut terjadinya proses geologis yang menyebabkan terangkatnya Pulau Jawa. Sampai saat ini masih ada yang Stenasellus yang tetap di laut. Keberadaan Stenasellus terdeteksi di Sumatra, misalnya di Lhoknga (Aceh), di Karst Sumatra Barat, dan Bukitbulan (Sarolangun). Di Jawa keberadaan Stenasellus hanya ditemukan di Jawa Barat. Stenasellus juga ditemukan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Selain itu Cahyo Rahmadi menyampaikan dalam paparannya bahwa pernah ada informasi dari koleganya dari Perancis yang mengatakan bahwa Stenasellus ditemukan pula di Nusa Kambangan meski sampai saat ini informasi tersebut belum dapat diverifikasi.

Khusus di Jawa Barat, sebaran Stenasellus terdapat di Klapanunggal (Bogor), Ciampea (Bogor), Buniayu (Sukabumi), dan Jompong (Tasikmalaya). Kepada para peserta, Cahyo Rahmadi menyampaikan harapan agar penelitian mengenai Stenasellus terus dilakukan karena menurutnya masih sangat banyak persoalan maupun sisi-sisi menarik dari Stenaellus yang dapat dan masih terbuka untuk diteliti lebih lanjut.

Beberapa hal menarik terkait fakta penelitian dikemukakan olehnya, antara lain: Populasi Stenasellus javanicus di Gua Cikarai selamat setahun pengamatan tidak pernah lebih dari 60 individu;
 Populasi yang paling banyak dan setiap bulan ditemukan Stenasellus javanicus berada di Chamber 1; Lokasi tersebut (
Chamber 1) memiliki karakter lorong gua yang besar, kondisi lantai gua selalu basah karena ada tetesan dari langit-langit gua di beberapa tempat. 
Lokasi tersebut juga dihuni oleh kelelawar sehingga di dalam kolam ditemukan guano sehingga ketersediaan bahan organik melimpah. 

Keberadaan Stenasellus di Gua Cikarai berada dalam kondisi terancam yang berhubungan dengan perubahan lahan (semula tegalan kemudian berubah menjadi permukiman) dan vegetasi di sekitar, pertambangan, polusi air, dan aktivitas penelusuran gua (caving dan cave tourism) yang dilakukan dengan gegabah serta sampah yang dibuang oleh penduduk melalui salah sebuah jendela gua (aven) yang ada. 

Selanjutnya, narasumber yang mendapat giliran kedua yaitu Edi Dwi Atmaja atau yang akrab dipanggil Edi Guano (PPA-GK). Paparannya mengungkap hasil beberapa kegiatan penelitian dan penyelidikan serta pemantauan biota gua yang telah dilakukan olehnya bersama berbagai tim pada Karst Gunungsewu. 

Pemaparan Monitoring Biota Gua di Karst Gunungsewu oleh Edi Dwiatmaja

Sebelum masuk ke inti pembicaraan, di awal paparannya Edi Guano menyatakan bahwa ekosistem gua sesungguhnya begitu unik, bahkan dua gua yang masih berada dalam satu kawasan pun boleh jadi masing-masingnya memiliki keberbedaan yang spesifik dan signifikan. 

Materi yang disajikan oleh Edi Guano meliputi berbagai ragam biota, antara lain kelelawar, ikan, jangkrik, burung, monyet, ular, kecoa, hingga macan tutul yang semuanya terdapat di kawasan Karst Gunungsewu. Dia memulainya dengan Ikan lele dan kelelawar (kecil). Dua biota yang dijadikan contoh dalam paparannya tersebut diambil dari pengamatan yang dilakukan olehnya. 

Edi Guano menyebutkan bahwa fauna darat dan fauna air memiliki dinamika yang berbeda. Pada kelelawar, bulan Januari akan naik terus dan pada September mengalami penurunan. Pada ikan gua, tren naik sejak Januari sampai Maret dan kemudian stabil untuk kemudian mulai Juni sampai Agustus akan turun. Hal tersebut sangat terkait dengan musim. Selain itu hal menarik lainnya pada kurun Desember – Januari, semuanya (kelelawar dan ikan gua) mengalami penurunan. Bahkan pada Januari, di puncak musim hujan, populasinya benar-benar turun baik pada ikan maupun kelelawar. Menurut Edi Guano, ada dinamika yang sama dengan hasil pengamatan di Jabar sebagaimana dipaparkan Cahyo Rahmadi. Pada puncak musim hujan ada penurunan tren. Dinamika populasi dari tahun ke tahun: terus mengalami penurunan sejak 2010 dan terutama pada 2014 – 2015 dipengaruhi Ekowisata (wisata minat khusus yang saat itu naik) dan 2017 turun drastis dikarenakan Badai Cempaka. Artinya Wisata gua dan fenomena alam (dalam hal ini badai) memiliki dampak terkait dinamika populasi.

Adapun siklus tahunan (annual cycle): pada kekelawar (kecil) yang hidup dalam Gua Njelamprong sampai Sinden, penurunan tren terjadi di bulan Desember – Januari meski secara umum relatif stabil, sedangkan pada Kelelawar (besar) yang hidup di mulut gua dan sekitarnya mengalami penurunan di bulan Januari sampai dengan April, kemudian akan ada peningkatan populasi hingga mencapai puncaknya di bulan Juli sampai September. 

Terkait dengan penurunan populasi kelelawar, ada hubungannya juga dengan kuliner sate dan tongseng kelelawar yang dijual di sekitar Panggang. Per harinya memerlukan rata-rata 200 individu.

Selanjutnya biota yang menjadi ikon Gunungsewu, Karstama Jacobsoni di Gua Ngingrong hanya ditemukan di titik tertentu saja. Sebarannya, di luar sistem Bribin, di Tepus, di Girimulyo, dan di Semanu. Mengenai Karstama Jacobsoni diperlukan pengamatan lebih lanjut.

Mengenai keberadaan spesies invasif juga dibahas oleh Edi Guano. Hal tersebut terutama didasarkan dari hasil pengamatan di Gua Seropan. Menurutnya hewan kecoa adalah representasi untuk persoalan tersebut. Dari pengamatan diketahui bahwa keberadaan kecoa tidak ditemukan pada kurun 2002 – 2007, tetapi pada 2008 – 2010 kecoa ditemukan di sekitar pintu gua. Pada 2011 kecoa-kecoa mulai masuk ke dalam gua. Melalui penyelidikan lebih lanjut kemudian diketahui bahwa rupanya ada pengeboran langsung dari permukiman ke dalam sumber air di dalam gua. Gua Seropan sempat tertutupi air selama 1 ½ sampai 2 hari menyebabkan tiada yang teramati.

Ikan endemik di sungai bawah tanah. Ditemukan oleh Ibu Reni pada 2006. Hal tersebut menarik. Diamati di Gua Nggremeng. Pada sistem Bribin ditemukan ikan sudah tidak ada matanya. Hal menarik tersebut masih harus ditindaklanjuti untuk memperoleh informasi yang mencukupi.

Fauna lain yang juga menarik untuk dibahas, menurut Edi Guano, yaitu keberadaan burung hantu besar berwarna putih atau lazim dikenal dengan nama Serak Jawa (Tyto alba). Fauna ini diamati di sekitar Gua Kecemi (wilayah Panggang) dan Gua Senen (wilayah Tepus) ditemukan, terkait dengan vegetasi di luar gua. Saat ladang atau hutan hilang dan terjadi perubahan lahan, keberadaan fauna tersebut menjadi hilang. Tyto alba sangatlah besar fungsinya dalam ekosistem, antara lain sebagai pestisida alami. Saat pengamatan, Edi Guano dan timnya kerap menemukan 2 – 3 tengkorak tikus di bawah sarang burung hantu besar. Masih dari kelompok burung, dikatahui bahwa Gelatik Jawa dalam kondisi yang hampir punah. Keberadaannya terkait vegetasi di sekitar habitat. Saat tegakan pohon jati dan sengon dibabat terjadi penurunan populasi. Mulanya bisa 10 – 12 ekor, tetapi terkini turun.

Hal menarik lainnya yang disampaikan oleh Edi Guano adalah keberadaan monyet ekor panjang. Jika umumnya terjadi penurunan populasi biota tetapi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), dari pengamatan di wilayah Paliyan, justru mengalami peningkatan. Pada 2003 di Luweng Lemah Jemblong sempat mengalami penurunan tetapi kemudian terus naik, bahkan mereka mulai membuat koloni-koloni baru. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan dengan fauna gua lainnya yang trennya terus menurun. 

Berdasarkan jejak dan kotoran, kemungkinan macan tutul atau tuwon, diketahui gua menjadi hunian hewan buas. Selain macan tutul, diketahui pula keberadaan ular piton dan ular-ular lainnya. Temuan terbaru ular cabe. 

Dari hasil-hasil pemantauan, Edi Guano menegaskan bahwa keberadaan vegetasi di sekitar gua sangat berpengaruh terhadap ekosistem gua. Banyak spesies yang terus menurun trennya. 

Selanjutnya Moch. Irfan Hadi (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya), sebagai narasumber ketiga, memaparkan berbagai potensi “unknown desease” yang terdapat pada hewan di kawasan perguaan yang merujuk pada hasil studi yang dilakukannya di kawasan Karst Malang Selatan. Dia memulainya dengan memberikan gambaran mengenai Karst Malang Selatan yang memiliki ratusan gua dengan segala keunikannya. Karst Malang Selatan berada pada kisaran ketinggian 0 – 400 mdpl. Banyaknya gua yang berada di kawasan Karst Malang Selatan berbanding lurus dengan banyaknya ragam jenis fauna gua, salah satunya yaitu kelelawar.

Pemaparan Dr. M. Irfan Hadi tentang Potensi Unknown Disease Pada Hewan di Kawasan Gua

Moch. Irfan Hadi menekuni kajian epidemologi molekuler dan mendedikasikan dirinya untuk mengeksplorasi potensi penyakit yang dibawa oleh biota. Di dalam paparannya Moch. Irfan Hadi mengungkapkan banyak sekali fakta menarik, beberapa di antaranya perihal kelelawar yang merupakan satu-satunya mamalia yang bisa terbang, kelelawar yang memiliki laju metabolik yang lebih tinggi dibandingkan mamalia lainnya, nyatanya kelelawar memiliki ketahanan imun tinggi terhadap serangan infeksi berbagai macam mikroorganisme, dlsb. 

Fakta-fakta tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kelelawar menjadi salah satu reservoir penyakit zoonosis sehingga perlu diperhatikan. Disebutkan pula bahwa nyatanya penyakit zoonosis atau penyakit menular (infectious disease) menjadi salah satu penyebab utama kematian manusia di seluruh dunia. Pada akhir abad ke-20, penyakit menular yang baru muncul (emerging infectious disease/ EID) dan penyakit menular yang muncul kembali (re-emerging infectious disease/ REID) pada manusia dan hewan menyebabkan keterkejutan dunia kesehatan terutama mengenai bahaya yang akan ditimbulkan. Hal tersebut mendorong ada dan dilakukannya monitoring mengenai penyakit menular (infectious disease) yang disebabkan oleh virus melalui vektor penyakit berupa kelelawar. Penelitian Moch. Irfan Hadi yang dilakukan sebelum terjadinya pandemi Covid-19 tersebut nyatanya saat ini benar-benar menemukan relevansinya sehingga seharusnya dapat membuat mata masyarakat terbuka dan tidak mengabaikannya. Di akhir uraiannya beliau berharap kepada ISS agar turut serta menyebarkan informasi betapa besar risiko yang timbul dari perilaku mengonsumsi kelelawar.

Ekoparasit juga harus diperhatikan mengingat sebagian zoonosis bisa ditularkan melalui vektor (biasanya kelompok serangga). Potensi REID, berdasarkan 2 spesies kelelawar (micro dan makro), terutama lebih banyak pada kelompok makro. Dari kelelawar menginfeksi nyamuk, dari nyamuk ke manusia. Salah satunya Virus Nipah (Malaysia), dinamakan demikian karena kasus dimulai di sekitar Sungai Nipah. Dari kelelawar ke hewan lain (vektor) lalu ke manusia. Selain virus nipah, ditemukan pula beta coronavirus juga ditemukan di kelelawar (micro). Sampel guano juga diteliti. 

Di Malang Selatan ada ditemukan perilaku mengonsumsi kelelawar sebagai sumber protein hewani. Hal tersebut sangat besar risikonya. Makan daging hewan liar berpotensi mentransmisikan penyakit. Mengenai hal tersebut, menurut Moch. Irfan Hadi, akan dilakukan penelitian lebih lanjut, 2020. Nanti sampel darah yang diambil tidak hanya dari hewan (reservoir) tetapi juga sampel darah manusia yang erat berinteraksi dengan hewan-hewan tersebut. 

Menutup paparannya, sekali lagi Moch. Irfan Hadi menekankan perihal keamanan dalam penelusuran gua. Kegiatan tersebut sangatlah berisiko. “Kita tidak tahu di dalam gua ada apa? Ada potensi penyakit apa? Banyak pathogen dalam gua. Alat Pelindung Diri perlu sangat diperhatikan demi keselamatan,” pungkasnya.

Sebelum masuk pada sesi tanya jawab, moderator mempertimbangkan sisa waktu yang tersedia berbanding terbalik dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta melalui kolom percakapan sehingga perlu merangkumnya ke dalam tiga kelompok pertanyaan bagi semua narasumber yang masing-masingnya langsung ditanggapi. Secara garis besar pertanyaan-pertanyaan yang timbul dan diajukan antara lain menyoal ihwal perlindungan biota, peran biota bagi keberlangsungan ekosistem, masalah kesehatan penelusur gua dan masyarakat, pencemaran air, serta perihal wabah Covid-19. 

Materi dari panelis:

Monitoring Stenasellus, Dr. Cahyo Rahmadi
Potensi Unknown Disease Pada Hewan Di Kawasan Gua, Dr. Moch. Irfan Hadi

Dokumentasi video acara Speleo Talks: Hasil Identifikasi dan Monitoring Biota Gua

Arsip

Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020
Agenda SpeleoTalks seri 9: Cave Diving – into the unknown world
July 23, 2020

Arsip

Related Posts

Leave a Reply