FGD Mewujudkan Manajemen Cave Rescue Ideal

Latar Belakang
Kegiatan penelusuran gua akhir-akhir ini mulai banyak diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya didominasi dari kalangan pecinta alam dan peneliti saja, tetapi juga banyak dari kalangan masyarakat umum yang mulai tertarik dengan kegiatan penelusuran gua yang dikemas ke dalam bentuk wisata. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya destinasi wisata gua yang dibuka di berbagai daerah.

Jika dahulu destinasi wisata gua yang ada hanya berupa gua-gua untuk “show cave” saja, namun saat ini banyak pihak yang menyajikan serta menawarkan produk wisata berupa sensasi petualangan dan adrenalin. Hal tersebut tentu saja menggembirakan dalam konteks bisnis, ekonomi, maupun sosial. Walaupun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan dampak negatif pada aspek lingkungannya. Selain itu, maraknya wisata gua juga berpotensi meningkatkan angka kecelakaan atau musibah gua di Indonesia.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, sejak dari tahun 1993 hingga sampai saat ini, terdapat 31 korban jiwa akibat kecelakaan di dalam gua dari 21 kasus yang terjadi. Tidak menutup kemungkinan masih banyak kasus kecelakaan atau musibah di dalam gua yang belum terdata. Mengingat masih minimnya data dan informasi mengenai kecelakaan gua di Indonesia yang diinformasikan kepada publik.

Dari data yang terkumpul, grafik jumlah korban jiwa pada kasus kecelakaan atau musibah di dalam gua periode saat ini menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan pada periode 2003-2007. Beberapa pihak pengelola wisata gua juga masih banyak yang abai terkait keselamatan pengunjungnya. Untuk itu perlu adanya penyadartahuan bersama seluruh pemangku kepentingan terkait masalah potensi kecelakaan atau musibah dalam gua di Indonesia. Mengingat kegiatan penelusuran gua merupakan kegiatan gabungan dari memanjat tebing, mendaki gunung, berenang dan bahkan menyelam, yang semuanya itu dilakukan di tempat tanpa cahaya matahari. Sehingga tidak heran jika kegiatan penelusuran gua adalah kegiatan yang memiliki potensi risiko tinggi dan dapat menyebabkan kematian.

Di sisi lain, Indonesia masih minim aneka sumber daya mengenai manajemen pertolongan di dalam gua atau biasa disebut “Cave Rescue”. Belajar dari kasus kecelakaan gua di Thailand beberapa waktu lalu. Dari kasus tersebut, terbukti bahwa begitu rumitnya operasi pencarian dan pertolongan di dalam gua. Betapa kompleksnya manajemen cave rescue, serta pelibatan banyak pihak yang tidak menutup kemungkinan sifatnya lintas sektoral dan global. Untuk itu perlu kiranya penyadartahuan dan melangkah bersama dalam mewujudkan manajemen cave rescue yang ideal ke depannya di wilayah Indonesia.

Tujuan
Tujuan dari FGD ini adalah untuk memberikan informasi terkait data, gambaran, analisa kasus, dan temuan dari para pemangku kepentingan mengenai kecelakaan atau musibah di dalam gua. Menjadi ajang penyadartahuan bersama mengenai manajemen cave rescue. Mengumpulkan masukan dari berbagai pihak terkait isu-isu mengenai manajemen cave rescue. Mitigasi risiko wisata gua dan petualangan di Indonesia.

Topik
Topik diskusi antara lain: 1. Problematika penanganan kecelakaan gua di Indonesia; 2. Pengurangan Risiko kecelakaan gua; 3. Manajemen Cave Rescue; 4. Kelembagaan; 5. Pengembangan Kapasitas SDM.

Waktu dan Tempat
FGD akan dilaksakan pada hari Senin, tanggal 13 Agustus 2018. Tempat kegiatan akan diadakan di Ruang Yustisia, University Club Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Peserta
Peserta FGD ini adalah para pihak yang diundang secara khusus dan memiliki kepentingan terkait masalah kecelakaan atau musibah dalam gua di Indonesia.

Daftar Undangan:
1. Kantor SAR Yogyakarta
2. Kantor SAR Semarang
3. Kantor SAR Surabaya
4. Kantor SAR Kabupaten Trenggalek
5. SAR DIY, di Yogyakarta
6. BPBD Provinsi Yogyakarta
7. BPBD Gunungkidul
8. BPBD Purworejo
9. BPBD Kulonprogo
10. BPBD Pacitan
11. BPBD Wonogiri
12. SAR Baron, Gunungkidul
13. PMI Provinsi Yogyakarta
14. PMI Kabupaten Gunungkidul
15. PPA Gunungkidul
16. Arisan Caving – Sekber PPA DIY
17. Acintyacunyata Speleological Club, Yogyakarta
18. Forum Caving Surakarta, Surakarta
19. Semarang Caver Association, Semarang
20. Latgab Caving Jabodetabek. Jakarta
21. Tasikmalaya Caving Community (TCC), Tasikmalaya
22. ISS Pengda Jawa Tengah
23. ISS Pengda Jawa Barat
24. ISS Pengda Jatim
25. ISS Pengda Yogyakarta
26. ISS Pengda Sulawesi Selatan
27. ISS Pengda Banten
28. HIKESPI Perwakilan Makassar
29. HIKESPI Perwakilan Bogor
30. HIKESPI Perwakilan Sukabumi
31. HIKESPI Perwakilan Malang
32. HIKESPI Perwakilan Surabaya
33. SAVE+RESCUE
34. Cave Tubing Kalisuci
35. Paving Jawa Timur, Surabaya
36. Bandung Speleological Association (BSA), Bandung
37. Belajar Asyik Caving (BAC), Banyumas

Konfirmasi kepesertaan dan kontak panitia dapat menghubungi Tiara (0822-3824 -1964) atau melalui email (iss.kontak@gmail.com) sebelum tanggal 11 Agustus 2018.

Penyelenggara
Focus Group Disccussion mengenari Cave Rescue Management diselenggarakan oleh Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI/ISS) bekerjasama dengan Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI).

Arsip

Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020
Agenda SpeleoTalks seri 9: Cave Diving – into the unknown world
July 23, 2020

Arsip

Glossary

Related Posts

Leave a Reply