Sumatran Karst Expedition I : Ekspedisi Perut Bumi Jambi

Dunia caving (penelusuran goa) adalah dunia yang sangat menarik bagi penggiat alam bebas. Istilah Caving mungkin masih asing bagi kuping sebagian besar orang, namun bagi pecinta dunia ini, istilah tersebut sudah akrab dan tidak asing lagi. Suasana gelap bukanlah hal yang menyenangkan bagi sebagian besar orang, cerita tersuruk dibawah perut bumi dan dikelilingi oleh batu-batuan biasanya disambut dengan ekspresi bergidik ngeri dan wajah penasaran. Bagi penikmat dunia bawah tanah ini, justru kegelapan di dalam perut bumilah hal yang dicari-cari. Berada dalam kegelapan di bawah tanah bukanlah hal yang sia-sia, akan tebersit kebanggaan bagi sang caver (istilah penelusur goa) jika cahaya senternyalah yang pertama menjadi sumber cahaya dalam kegelapan dunia ini. Keindahan yang disajikan dalam dunia ini jauh berbeda dan tidak akan mudah dijumpai di sudut manapun di daratan bumi ini. Tak heran jika kegiatan ini memiliki banyak peminat dari rakyat pecinta alam. KCA-LH FMIPA UNAND sebagai penggiat alam bebas juga merupakan penikmat dunia bawah tanah yang bahkan pada tiap tahunnya diadakan ekspedisi ke daerah-daerah yang belum dieksplor oleh kelompok penggiat alam bebas lainnya.

dok: KCA-LH FMIPA UNAND

Tahun ini KCA-LH FMIPA UNAND merambah ke provinsi tetangga, mencoba untuk menjelajahi perut bumi yang bahkan belum terlalu dikenal oleh penggiat alam lainnya. Tujuannya adalah mengadakan kegiatan eksplorasi goa di kawasan karst Bukit Bulan Sarolangun, Jambi dengan kegiatan diantaranya adalah penelusuran dan pemetaan goa, Inventarisasi flora dan fauna, pendataan kearifan lokal masyarakat untuk penggunaan tumbuhan sebagai tumbuhan obat serta uji mikroba dari sampel tumbuhan. Tim beranggotakan 10 orang anggota KCA-LH RAFFLESIA FMIPA UNAND, terdiri dari 5 orang anggota Biasa, 2 orang anggota muda dan 3 orang calon anggota Rafflesia. Akses menuju lokasi tergolong sulit, karena kawasan karst bukit bulan ini terletak jauh di pedalaman Kabupaten Sarolangun. Anggota tim menempuh perjalanan selama ± 26 jam untuk bisa mencapai Bukit Bulan dari Kota Padang. Perjalanan panjang ini bisa menjadi lebih lama lagi jika dalam perjalanan terjadi kerusakan pada alat transportasi yang diakibatkan oleh kondisi alam seperti hujan badai, longsor di jalan dan lain-lain. Dari Kota Sarolangun, hingga ke Desa Napal Melintang aksesnya adalah jalan tanah yang terjal serta pada kiri dan kanannya adalah jurang. Kemahiran dalam berkendara dituntut disini, serta keinginan untuk memompa adrenalin bisa dipacu pada sepanjang jalur perjalanan.

dok: KCA-LH FMIPA UNAND

Kegiatan ekspedisi dilakukan selama 1 minggu. Desa Napal Melintang dikelilingi oleh bukit-bukit limestone yang tegar berdiri dan menjaga kelimpahan sumber daya alamnya selama berabad-abad. Tim tidak hanya terpaku beraktifitas pada 1 desa saja, karena Bukit Bulan sendiri berdiri melingkupi sepanjang 3 desa dan menjadi penghubung antar desa, yaitu desa Meribung, Desa Mersib dan Desa Napal Melintang. Penduduknya sangat ramah menyambut dan menjamu tim Ekspedisi. Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani dan mencari sarang walet. Dari laporan penduduk, kawasan ini memiliki ratusan goa yang sudah menjadi bagian dari bangkitnya perekonomian masyarakat. Sayangnya eksploitasi yang terlalu berlebihan menyebabkan menurunnya populasi burung walet, sehingga dalam beberapa dekade terakhir mata pencaharian masyarakat dipindahkan ke bertani dan bercocok tanam. Pada umumnya suku asli penduduk yang tinggal di daerah ini adalah suku Minang, karena nenek moyangnya adalah dari suku Minang. Menurut cerita, nenek moyang suku minang melihat cahaya di bukit yang terang benderang dan melakukan perjalanan hingga ke daerah ini. Oleh karena bukit tersebut bersinar seperti cahaya bulan, maka dinamakan daerah tersebut dengan nama Bukit Bulan. Hingga saat ini masyarakat masih menjaga kuburan dari nenek moyang tersebut yang dimakamkan di kaki bukit bulan.

dok: KCA-LH RAFFLESIA FMIPA UNAND

Tim ekspedisi selama kegiatan berhasil melakukan penelusuran di 13 goa pada dua desa di kawasan bukit bulan. Keindahan dan pesona yang disuguhkan Bukit Bulan jauh berbeda dengan pesona yang ditawarkan oleh kawasan karst Sumatera Barat. Karena lokasinya di dataran tinggi, kawasan ini pada umumnya memiliki goa vertikal dan goa horizontal yang memiliki atap atau langit-langit yang tinggi. Kemurnian dan kealamian goa masih terjaga, tidak ada kegiatan vandalis atau perusakan yang dilakukan oleh masyarakat pencari sarang walet di daerah tersebut. Tim melakukan inventarisasi pada kawasan karst ini dan mendapatkan bahwa kawasan ini masih memiliki keragaman jenis tumbuhan yang tinggi. Dari hasil identifikasi didapatkan terdapat 14 family tumbuhan yang terdiri dari 38 spesies yang berhasil diidentifikasi. Sedangkan goa yang berhasil dipetakan adalah 2 buah goa yaitu goa Calau Petak dan Goa Mesiu.

Isu terbaru yang cukup menghebohkan dalam dunia bawah tanah Sarolangun adalah perencanaan tambang yang akan dilaksanakan oleh PT. Semen Batu Raja, salah satu perusahaan yang bergerak dalam pembuatan semen. Perencanaan ini melahirkan pro dan kontra dari berbagai pihak, diantaranya adalah antara pihak pemerintah, masyarakat dan juga dengan pemerhati lingkungan. Beberapa pihak ada yang setuju dengan rencana yang hingga saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan, sedangkan pihak lain banyak yang kurang setuju. Ditinjau dari aspek positif yang mungkin didapat oleh masyarakat dalam perencanaan ini adalah bertambahnya lapangan pekerjaan, pembangunan jalan sehingga mempermudah akses ke lokasi, masuknya modernisasi di kawasan terpencil ini yang mungkin dapat memicu pertumbuhan dan kemajuan desa. Namun dari sisi tersebut, terselip juga sisi negatif yang lebih banyak muncul. Diantaranya adalah kerusakan lingkungan, karena penambangan ini akan merusak sistem yang sudah ada pada kawasan karst Bukit Bulan. Otomotis dengan hal tersebut, maka kawasan ini akan berkurang, dan dalam kurun waktu yang panjang bukan hal yang mustahil jika kawasan ini hanya akan tinggal nama saja. Kawasan karst yang selama ini sudah menopang ekosistem di daerah Sarolangun lama-kelamaan akan rusak, sehingga berbagai efek lingkungan dapat saja terjadi di daerah ini. Contohnya, menurunnya jumlah keragaman hewan dan tumbuhan yang ada. Menurunnya jumlah populasi Kelelawar dan Burung Walet sebagai hewan khas kawasan karst, berkurangnya jumlah sediaan air karena selama ini kawasan karst lah yang menopang sistem aliran air bawah tanah di daerah ini. Selain itu juga dapat merusak kearifan lokal yang mungkin sudah dijaga oleh masyarakat dalam kurun jangka waktu yang lama selama ini.

Kerusakan ekosistem akan melahirkan dampak yang besar bagi masyaraket disekitarnya. Menurunnya jumlah populasi kelelawar sebagai spesies pengendali serangga dan juga kelompok hewan yang berperan sebagai agen disperser buah akan menyebabkan ketimpangan sistem rantai makanan yang ada pada daerah ini. Kurangnya disperser buah tanaman akan menurunkan jumlah tanaman produktif di pertanian masyarakat. Hal ini akan berdampak kepada penurunan ekonomi masyarakat yang pada umumnya adalah masyarakat tani. Berkurangnya tumbuhan sebagai produser utama dalam rantai makanan juga akan berdampak kepada masyarakat, dalam hal kerusakan hutan, masyarakat dan dunia akan kehilangan bagian dari paru-paru yang menopang sistem respirasi dunia.

Mari tunjukkan aksi untuk melindungi kawasan Karst ! Salam Lestari !!!
(*chornelia_Raff 377 Hmn)

Disalin dari laman KCA-LH RAFFLESIA FMIPA UNAND

Arsip

Pertanian dan Peternakan Hidupi Warga Satar Punda, Mengapa Harus Ada Tambang?
July 22, 2021
Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020

Arsip

Glossary

Related Posts

Leave a Reply