Kajian Karakteristik Banjir Luweng Ngingrong

Kajian Karakteristik Banjir Luweng Ngingrong, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, DIY

Ngingrong Catchment Map 2
Peta daerah tangkapan Lembah Mulo yang masuk ke Luweng Ngingrong

Mengapa kajian bahaya banjir?

Kecenderungan saat ini, jumlah kunjungan wisatawan Kabupaten Gunung Kidul meningkat 5 kali lipat dalam satu dekade ini. Data Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul mencatat terdapat sekurangnya 2,6 juta wisatawan mengunjungi Gunung Kidul pada tahun 2015. Penelusuran gua saat ini merupakan salah satu promosi wisata Gunung Kidul yang popular. Gua Pindul, Gua Jomblang, Gua Cokro, Gua Kalisuci, Gua Ngingrong dan Gua Seropan merupakan lokasi penelusuran gua yang sering muncul sebagai lokasi tujuan wisata minat khusus yang direkomendasikan ketika wisatawan berkunjung ke Gunung Kidul dan ingin mencoba wisata minat khusus.

Seiring dengan terus bertambahnya jumlah pengunjung kegua-gua tersebut tanpa mengetahui informasi seutuhnya mengenai karakteristik bahayanya, maka peluang terjadinya kecelakan saat penelusuran gua akan semakin meningkat, bahkan dapat menimbulkan kematian. Dari tahun 1998 – 2015 telah tercatat 19 orang telah kehilangan nyawa dari 6 kasus kebanjiran saat melakukan penelusuran gua.

Semua kejadian kecelakan tersebut terjadi saat melakukan kegiatan penelusruan gua pada musim hujan, selain itu minimnya pengetahuan mengenai karakteristik bahaya banjir pada gua yang ditelusuri juga merupakan factor utama terjadinya kecelakaan tersebut.

Kebanjiran dalam gua merupakan bahaya paling serius dari aktifitas penelusuruan gua, sementara itu informasi mengenai karakteristik bahaya banjir dan potensi risikonya sangat minim untuk tidak dikatakan belum tersedia pada gua-gua yang berpotensi banjir namun juga menjadi tempat tujuan popular bagi para penelusur gua, baik wisatawan, pemandu, masyarakat lokal, penggiat alam bebas dan praktisi speleologi.

Saat ini Luweng Ngingrong menjadi salah satu lokasi pengembangan wisata minat khusus di Gunung Kidul. Sementara itu, informasi mengenai karakteristik bahaya banjir dan potensi risikonya belum tersedia secara memadai. Untuk menjawab kebutuhan tersebut maka kajian risiko banjir pada Mulut Gua Ngingrong, Desa Pancarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul – DIY dilakukan agar dapat memberikan informasi mengenai karakteristik banjir dan potensi risikonya sebagai dasar pertimbangan manajemen risiko dalam penelusuran dan pengelolaan wisatanya.

Hal ini bertujuan agar setiap penelusuran yang dilakukan di gua Ngingrong berjalan aman, nyaman, menyenangkan dan bertanggungjawab. Disamping itu diharapkan kajian ini dapat dijadikan model untuk pengembangan kajian bahaya dan risiko pada gua-gua yang berpotensi banjir lainnya.

Morfometri DAS Mulo

Mulut Gua (Masyarakat Gunung Kidul biasa menyebut dengan istilah Luweng) Ngingrong terletak pada dasar lembah, dikenal dengan Lembah Mulo. Lembah Mulo merupakan lembah dengan sungai periodik yang kering pada saat kemarau dan mengalir pada saat musim penghujan. Aliran sungai pada lembah ini mengalir dari permukaan dan berakhir masuk pada mulut Gua Ngingrong membentuk lorong gua sungai bawah tanah, dikenal dengan istilah lembah buntu- blind valley.

Saat musim penghujan aliran permukaan dari seluruh areal tangkapan air-catchment area, akan mengalir masuk kedalam mulut Gua Ngingrong, pada debit puncak dan kondisi tanah jenuh air biasanya akan terjadi banjir dengan debit besar dan kecepatan tinggi. Saat banjir, aliran air permukaan membawa material sedimen berupa lumpur dan bongkah batuan, menyerupai Banjir Bandang – Flash Flood pada sungai permukaan. Proses ini secara alamiah merupakan faktor utama pembentukan sistem lorong Gua Ngingrong dari jaman dulu hingga sekarang.

Daerah Aliran Sungai (DAS) pada Lembah Mulo merupakan DAS dengan tipe sangat kecil, dengan luas 1.125,77 Ha (11,528 Km2) dengan lebar mencapai 3,750 Km diukur dari sumbu terlebar batas deliniasi areal tangkapan air – catchment area. Berdasarkan penampang melintang sungai yang dihitung dari mulut Gua Ngingrong hingga batas ujung area tangkapan hujan, Sungai dalam DAS Lembah Mulo memiliki gradien kemiringan sungai 2,98 %, artinya aliran sungai yang berada dalam DAS Mulo melalui topografi bergelombang. Topografi bergelombang ini meyebabkan aliran air permukaan bergerak cepat masuk kesungai-sungai utama sehingga ketika curah hujan tinggi maka air yang mengalir akan semakin cepat ke badan sungai utama yang menuju dan masuk ke mulut Gua Ngingrong.

DAS Mulo memiliki bentuk paralel dengan pola aliran dendritik. Terdapat 3 buah anak sungai yang cenderung sejajar dan menyatu menjadi induk sungai utama dan masuk kedalam Gua Ngingrong. Pertemuan ketiga anak sungai tersebut membentuk sungai utama dengan nilai percabangan (orde) sungai Rb 5,4 (Hortan dalam Syhan, 1977). Artinya sungai yang masuk kedalam mulut Gua Ngingrong adalah cabang kelima sungai yang dihitung dari anak sungai paling hulu. Sungai dengan orde 5 mencirikan bahwa suplai aliran air akan semakin besar dan cepat saat terjadi banjir dan semakin lama masa tinggal air dalam badan sungai utamanya (Soewarno, 1991). Ketika terjadi banjir maka semua aliran air akan menumpuk kesatu titik, yakni mulut gua Ngingrong sehingga potensi seluruh lorong gua terisi oleh air sangat memungkinkan.

Total panjang aliran sungai, baik utama maupun anak sungai pada DAS Mulo adalah 79,46 Km dengan tingkat kerapatan sungai 6,89 m/Km2. Bedasarkan pembagian Soewarmo, 1991 maka DAS Mulo masuk kedalam kelas kerapatan sedang. DAS dengan kelas kerapatan sungai sedang ini memililki karakter alur sungai yang melewati batuan dengan resistensi lebih lunak, sehingga angkutan sedimen yang terangkut aliran akan lebih besar. Artinya tanah lapukan pada formasi batugamping dalam DAS Mulo akan terangkut oleh aliran air ketika terjadi banjir, semua tanah sedimentasi hasil pelapukan batuan permukaan akan terangkut masuk kedalam Gua Ngingrong.

Kondisi ini memicu tekanan air yang mengalir bertambah besar karena adanya penambahan massa dalam aliran airnya ketika terjadi banjir. Secara geometri bentuk DAS Mulo cenderung membulat. Hasil ini berdasarkan perhitungan ratio circularnya yang bernilai Rc > 0,5 dimana biasanya memiliki karakter debit puncak datangnya lama begitu juga penurunanya.

Probabilitas Banjir

Berdasarkan laporan prakiraan musim hujan 2015/2016, wilayah Gunung Kidul awal musim penghujan adalah bulan Desember 2015 dan akan berakhir pada awal April 2016. Sifat hujan selama periode Januari – Maret 2016 adalah normal dimana jumlah perbandingan curah hujan selama rentang waktu periode musim hujan berada dalam rentang 85% – 115% terhadap jumlah curah hujan rata-rata selama 30 tahunan (periode 1981 – 2010).

Curah hujan tinggi akan terjadi pada bulan Januari – Pebruari 2016, mencapai 300 – 400 mm sementara pada bulan Maret 2016 curah hujan menengah dengan prakiraan curah hujan 200 – 300 mm. Selain itu berdasarkan analisis probabilitas BMKG per Januari – Maret 2016 kemungkinan curah hujan sangat lebat > 50 mm dapat terjadi dengan peluang 90% sepanjang Januari – Maret. Sementara untuk curah hujan antara >300 mm berpeluang terjadi 50% jika dihitung rata-rata dari ketiga bulan tersebut. Data ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya banjir pada Gua Ngingrong selam bulan Januari – Maret 2016 adalah 50%.

Tabel : Probabilitas Kejadian Hujan Periode Januari – Maret 2016 (Sumber : BMKG)

Curah HujanJanuariFebruariMaret
< 100 mm< 10%< 10%< 10%
< 150 mm< 10%< 10%< 10%
> 50mm> 90%> 90%> 90%
> 100 mm> 90%> 90%> 90%
> 150 mm> 90%> 90%> 90%
> 200 mm> 90%> 90%80% – 90%
> 300 mm70% – 80 %> 90%30% – 40%
> 400 mm10% – 30%40% – 50%<= 10%
> 500 mm< 10%< 10%<10%

Secara alamiah Gua Ngingrong rutin mengalami banjir disetiap puncak musim hujan karena letak Mulut Gua Ngingrong merupakan muara – outlet dari sistem DAS Mulo. Banjir yang terjadi merupakan banjir bandang pada permukaan yang masuk kedalam gua dengan kecepatan peningkatan debit puncak sedang – cepat dengan waktu tinggal yang lama. Aliran banjir umumnya membawa material sedimen berupa bongkahan batuan dan tanah liat atau lumpur yang berasal dari perbukitan pada sisi Selatan Gua Ngingrong. Material sedimen tersebut juga merupakan media pengerus lorong gua ketika banjir terjadi. Intensitas banjir Gua Ngingrong sangat besar dimana debit aliran mampu mencapai 1,8 m/detik. Banjir pada gua Ngingrong berpotensi terjadi pada bulan Januari – Maret dalam periode musim hujan tahunan, terutama pada bulan Pebruari dimana puncak curah hujan mencapai > 300 mm dan peluang terjadinya mencapai > 90 %.

Berdasarkan perhitungan metode rasional (Lyod & Davis, 1906) maka DAS Mulo dengan simulasi kondisi hujan ringan (5 mm/jam) dapat mengalirkan aliran limpasan dengan debit 0,15 m3/detik, sementara untuk kondisi hujan sangat lebat (60 mm/jam) mampu mengalirkan limpasan sebanyak 1,82 m3/detik. Setara dengan 1,8 Ton air yang mengalir ke dalam mulut gua Ngingrong dalam tiap detiknya (detail dapat dilihat pada peta analisis). Jumlah aliran tersebut memiliki kuat arus lebih dari cukup untuk menghanyutkan penelusur gua dan membawa semua material lumpur, kayu dan batuan dari permukaan ke dalam gua.

Mencegah Kebanjiran

Bagi para penelusur gua sebaiknya tidak melakukan penulusuran gua pada musim hujan, yakni periode Januari – Maret karena besar kemungkinan mengalami kebanjiran dengan risiko kematian. Pengembangan wisata Gua Ngingrong sepatutnya memperhatikan karakteristik bahaya banjir dan bahaya ikutannya seperti runtuhan batuan pada zona rawan runtuhan yang tererosi saat banjir, baik pada permukaan maupun dalam lorong gua.

Pengelolaan wisata Gua Ngingrong sangat dianjurkan untuk menyediakan informasi mengenai potensi bahaya penelusuran gua secara proposional kepada setiap pengunjung yang akan melakukan penelusuran. Informasi ini seyogyanya dapat menjadi pengetahuan bagi para penelusur sehingga prilaku penelusuran yang aman dan nyaman dapat tercipta.

Para operator wisata, pemandu, peneliti, pengiat alam bebas dan speleologi sebaiknya memiliki pengetahuan untuk mengaskses informasi prakiraan curah hujan dan musim dari BMKG dan menjadikannya dasar pertimbangan penelusuran gua yang akan dilakukan. Informasi yang diperoleh dari BMKG dapat menjadi agenda briefing pra-penelusuran gua.

Hendaknya proses tersebut menjadi standard operasional keamanan dalam sebuah organisasi yang berkecimpung dalam dunia penelusuran gua.

 

Teks : Fredy Chandra

Analisa Spatial & Layout Peta : Thomas Suryono

Arsip

Pertanian dan Peternakan Hidupi Warga Satar Punda, Mengapa Harus Ada Tambang?
July 22, 2021
Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020

Arsip

3 Responses
  1. Fredy

    @Harry
    Terimakasih untuk pertanyaannya. Karakteristik stratigrafi memang menjadi salah satu dari faktor pertimbangan dalam menghitung koefisien limpasan permukaan pada sebuah DAS selain topografi dan tutupan lahan (vegetasi), Hal ini terutama dalam konteks kajian terhadap DAS dengan luasan > 10.000 Ha – > 1.500.000 Ha (klasifikasi DAS kecil – Sangat Besar dalam PEPDAS, 2010).

    Sementara dalam konteks perhitungan koefisien aliran permukaan dalam DAS Mulo, yang dari perhitungan luas deliniasi DAS adalah 1.125,77 Ha (Klasifikasi DAS Sangat kecil, PEPDAS. 2010), maka kami memilih metode rasional dalam perhitungan debit puncak aliran permukaan/limpasan banjir (Gunawan. 1991), dimana untuk menentukan koefisien aliran limpasan (C) kami menggunakan koefisien batuan (general) dengan nilai 0.26 (Hassing. 1995).

    Salam.

Leave a Reply