CavesID – langkah kecil yang dihargai

Prof ZhangSelama di Asian transkarst 2015 di Lichuan, China kemarin, saya mempresentasikan program CavesID yang digagas beberapa orang mengingat belum tersedianya portal informasi tentang karst dan gua Indonesia.

Portal ini menjadi penting ketika akhir-akhir ini marak munculnya polemik pemanfaatan kawasan karst oleh perusahaan ekstraktif. Dari webspasial yang tersedia, kita bisa melihat sebaran gua, sebaran mata air, gua-gua yang penting nilai sejarah dan bahkan kawasan Ijin usaha pertambangan setiap pabrik yang ada di Jawa.

Dalam presentasi yang berjudul “CavesID – the early stage of information on caves and karst in Indonesia” saya mencoba memaparkan apa yang sudah Indonesia lakukan dan apa yang sudah dicapai melalui CavesID. Namun demikian, masih banyak yang perlu dibenahi ketika kita ingin menjadi pusat informasi yang terbuka buat siapa saja.

Penghargaan

Setelah presentasi sekitar 15 menit, dengan paparan yang cukup singkat saya menutup paparan dengan mengundang semua hadirin di Asian Transkarst 2015 untuk membantu Indonesia mengumpulkan data yang masih belum maksimal.

Saat istirahat, di lobi hotel Mingun Lilai Hotel di Lichuan, seorang “kakek” mendatangi saya dan menanyakan apakah saya tadi yang prensentasi tentang web informasi gua di Indonesia. Saya jawab iya. Kakek itu mengenalkan diri bernama Prof. Zhang, seorang tokoh speleologi China yang umurnya sudah lebih dari 80 tahun. Beliau datang bersama istrinya dan dia menunjukkan foto istrinya yang ada di prosiding “international Congress of Speleology” di Beijing, China pada tahun 1993. Ini istri saya, sambil menunjuk foto seorang perempuan muda yang ada di salah satu halaman prosiding.

Beliau bilang, “Saya tahu Indonesia membutuhkan ini”, sambil memegang dua buku prosiding.

“Buku ini sudah sangat lama dan tidak banyak yang memiliki terutama negara yang tidak bisa datang ke China waktu itu.”

“Ini saya serahkan ke kamu, supaya bisa dimanfaatkan untuk melengkapi apa yang sudah kamu lakukan”

Setelah itu, dari tasnya beliau mengeluarkan kaos kuning, sambil berucap “Ini sudah berumur 20 tahun lebih, ini kaos ketika Kongres waktu itu, ini buat kamu”

Saya terharu dengan apa yang disampaikan profesor Zhang. Beliau begitu menghargai apa yang sudah teman-teman lakukan meskipun itu sebuah hal yang sangat kecil dan tentunya masih menyisakan banyak pertanyaan.

Namun, dengan penghargaan dari prof Zhang, saya semakin yakin, CavesID sudah di arah yang benar, arah yang penting untuk menjawab sebuah kebutuhan Indonesia bahkan dunia.

Sebuah pujian juga datang dari Joerg Dreybrodt seorang caver kawakan yang banyak melanglang buana di Myanmar dan Laos. Dia juga punya database dalam program yang masih offline. Dia memuji apa yang sudah dilakukan Indonesia sama seperti Timothy Moulds dari Australia.

Arah yang benar

Dari itu semua, saya pribadi semakin yakin dengan CavesID dan manfaatnya di masa yang akan datang. Meskipun hanya sekitar 1.900 entri dari gua, mata air dan lain-lain namun apa yang sudah ada tentu akan memberi manfaat buat siapa saja.

CavesID menjadi jembatan untuk semua dari pelaku speleologi sampai pihak-pihak lain yang membutuhkan untuk kepentingan penyelamatan karst. Dan ini semua bukan keringat beberapa pihak, namun ini keringat Indonesia keringat teman-teman klub, pecinta alam, komunitas Caving yang merelakan datanya untuk menjadi bagian dari keterbukaan informasi ini.

Polemik

Saya juga tahu, CavesID juga menjadi semacam pertanyaan bagi sebagian pihak yang masih memandang apa yang sudah mereka kerjakan adalah milik mereka, jadi hanya mereka yang berhak menggunakan. Saya bisa memahami pendapat itu, namun dalam kontek lain, keringat, jerih payah dan bahkan nyawa sekalipun menjadi kurang bermakna ketika data dan informasi tersebut tidak bisa dimanfaatkan orang lain.

CavesID hanya sebatas tool, sebagai single window dimana semua informasi dari berbagai kalangan bisa diakses siapa saja. Tidak perlu semua membuat karena itu menjadi tidak bermakna. Karena data menjadi hanya “sepihak” sedangkan CavesID datanya di dukung multipihak sehingga kenampakan dalam peta menjadi lebih terlihat.

Selain itu, peta yang tersaji dapat memberi informasi daerah mana saja yang belum dikaji, sehingga orang lain bisa mempertimbangkan ketika akan melakukan ekspedisi atau eksplorasi tanpa kehawatiran mengulang di tempat yang sama.

CavesID menjadi informasi awal untuk sebuha kegiatan yang lebih banyak dilakukan oleh orang atau pihak lain.

Selain itu, CavesID juga masih tetap mencantumkan pemilik data, organisasi, publikasi atau apapun ketika data tersebut diperoleh.

CavesID hanya bisa memulai dengan hal kecil, namun diharapkan dapat memberi manfaat buat siapa saja dimana saja.

Kami mengucapkan terima kasih, kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk memperkaya CavesID sehingga suara speleologi Indonesia semakin nyaring terdengan di Indonesia maupun di dunia.

Salam

Arsip

Pertanian dan Peternakan Hidupi Warga Satar Punda, Mengapa Harus Ada Tambang?
July 22, 2021
Agenda SpeleoTalks seri 10: Mengenal Citizen Law Suit
February 3, 2021
Mengungkap surga tersembunyi kawasan karst sekitar TN Gunung Halimun salak
November 8, 2020
Webinar Hasil Ekspedisi Lawalata: Mengungkap Surga Tersembunyi di Sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak
October 16, 2020
Ringkasan SpeleoTalks seri 9: CAVE DIVING: Into the Unknown World
July 29, 2020

Arsip

Leave a Reply